Productive, Yes I Do!

Sabtu, 25 Juli 2015 bisa dikatakan adalah hari yang sangat produktif bagi saya. Kenapa? Dini hari sekitar pukul 01:45 saya dibonceng Ekky menuju rumah teman kami, Hiroky. Mau ngapaian tengah malam? Keluarga English Community Balikpapan (ECB) mengadakan trip ke batu dinding. Batu Dinding adalah objek wisata baru yang mulai ramai dikunjungi oleh masyarakat Balikpapan khususnya. Terletak di kilo 45, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dikomandoi oleh Adri, sekitar jam 02:00 kami berangkat dibaluti dinginnya angin malam yang begitu menyengat. Kami berhenti di kilo 38 untuk menunggu dua teman kami yang menyusul,Tino dan Rizal. Tibalah mereka, genaplah personil kami menjadi 12 orang dengan 6 motor (nebengers mode on). Tiba di gerbang kilo 45, kami harus menempuh sekitar 8 kilo lagi dengan medan jalan yang kurang bersahabat.

Kami mencapai puncak batu dinding sekitar jam 04:40 dengan suasana yang tentunya begitu tenang, sejuk dan bahagia karena telah menaklukan rasa lelah dalam  menuju titik paling atas. Seperti biasa, fotooooooo dulu bosko!

image
Dibalik lelah, ada rasa bahagia! Lihat saja wajah saya ✌

Momen menunggu matahari terbit adalah yang paling kami tunggu daaannn all the tiredness paid off! Pemandangan alam yang amat langka untuk kami anak Kota 🙂 setiap dari kami saling mengabadikan momen melalui ponsel masing-masing dan tentunya sebelum pulang, ambil gambar groupie dulu kakak 😉

image
English Community Balikpapan (ECB)

Senangnya hati kami! Perjalanan pulang sekitar jam 08:15 dan kami sepakat untuk sarapan bersama dahulu, dibandarin Adri (terima kasih kakak). Selesai sarapan, tim berpisah menjadi dua. Ada yang melanjutkan ke Danau Cermin, sementara saya harus pulang karena sudah janji untuk mengisi sesi sharing untuk panitia OSPEK Politeknik Negeri Balikpapan.

Jam 10:15 saya bersama sahabat saya, Huda bertolak ke POLTEKBA dan sampai sekitar jam 10:45 senang sekali diberikan kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman juga saling mendengarkan pendapat di dalam ruangan sederhana yang cukup akrab. Saya berbagi pengalaman dan pendapat seputar ASEAN COMMUNITY 2015. Teman-teman sudah pada tahu kan? Sesi sharing berjalan cukup interaktif.

image
Terima kasih Gufron telah mengundang saya.

Agenda selanjutnya adalah menghadiri undangan halal bihalal di kediaman rumah jabatan Ketua DPRD Kota Balikpapan dan tentunya bertemu teman saya, Belinda. Saya cukup lama menghabiskan waktu disini. Maklum karena bareng sahabat sahabat saya juga, ada bebih Nyun, bebih Shinta dan bebih Huda. They are people that I love to talk to from heart to heart! 💕💕

Sampai saya menulis ini, saya sedang berada di calais untuk menunggu traktiran teman dan akan menghabiskan Sabtu malam ini bersama Nasrul, Nanda, Huda dan Ozan. Inilah waktu yang saya investasikan hari ini. Kalau kamu?

image
Salam produktif! :mrgreen:

Posted from WordPress for Android

MOS, saatnya BERKREASI atau SENSASI (?)

Hello bosko!
Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1436 H untuk teman-teman yang sedang merayakannya :mrgreen:

image

Straight to the point aja deh ya boskooo….
Jadi di Kota yang paling dicintai di dunia versi WWF ini KOTA BALIKPAPAN lagi hebring isu pelaksanaan MOS yang dalam hitungan beberapa hari lagi akan dilaksanakan. So pasti pro kontra adalah hal yang lumrah. Yang pasti satu hal: BERBEDA ITU BIASA, SALING HARGAI! Namanya juga manusia, 100 kepala bullshit pikirannya sama semua.

Well, MOS ini jadi isu yang makin hangat di sosial media khususnya untuk remaja Balikpapan yang akan menjalaninya (SMP & SMA). Yang akan menjalani MOS (siswa baru), meminta agar MOS tidak ada unsur bullying dan kalau bisa ramah anak. Kalau yang dimaksud “bullying” disini adalah seperti : pakai name tag berbahan kardus bekas, tas berbahan kompek, pita berbahan sedotan, dibentak senior, dll (you name it lah). Apakah teman-teman merasa ini bentuk bullying? Atau malah ada yang lain yang lebih ekstrim? Atau justru MOS yang begini akan dikenang sepanjang masa?

Pointnya disini : Jadikanlah MOS yang cuma 3 hari untuk dikenang setiap hari! Make it memorable and unforgettable!

WARISKAN MOS YANG TAULADAN UNTUK DILANJUTKAN!

Kalau dari penyelenggara MOS (OSIS) menganggap ini hal biasa aja. Ada juga yang bilang ‘untuk melatih mental’ bahkan warisan dari senior terdahulu ☺ yang pasti, mau nggak mau, suka tidak suka MOS pasti ada dan akan jadi ajang pemanasan sebelum masuk sekolah. Pertanyaannya kemudian: bentuk MOS seperti apa sih yang ideal untuk diterapkan? Apakah benar dengan cara (yang sudah disebutkan) benar benar melatih mental? Atau malah menjatuhkan mental? Sudah berkualitaskah ini semua?

in my very humble opinion (IMHO), kalau cara cara yang melatih mental masih banyak yang bisa diterapkan selain cara cara di atas (saya sarankan khususnya penyelenggara MOS banyak baca dan sharing untuk menerapkan bentuk MOS yang ideal).

Kita kembali ke kata MOS (masa ORIENTASI siswa) dulu yuk! Idealnya, MOS di sekolah harusnya jadi ajang untuk memperkenalkan sekolah (prestasi sekolah dan visi misi sekolah) agar bisa menumbuhkan rasa bangga siswa sama sekolahnya dan menstimulasi siswa menjadi kreatif. Sederhananya : menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk belajar selama 3 tahun ke depan :mrgreen:

Saran saya untuk OSIS sebagai penyelenggara MOS : maknailah kata ‘senior’ sebagai panutan(tauladan), maka kalian akan tahu harus bersikap seperti apa ke junior. Jadikan MOS di sekolah kalian sebagai ajang kompetisi siswa baru (junior kalian) untuk saling berlomba mengharumkan nama sekolah kalian. Seleksi anggota panitia MOS dan bekali kapasitas untuk mereka agar tidak salah gocek memberikan orientasi di lapangan (saya punya beberapa teman yang bisa membantu untuk memberikan kapasitas ini) just let me know 😉 Paling penting : Buatlah junior kalian BANGGA memiliki senior seperti Anda!

Untuk yang akan di MOS, nikmatin aja boskoh! Insha Allah MOS akan jadi momentum awal kalian untuk bangga sama sekolah dan seisinya. Juga akan jadi ajang kalian untuk memperkaya pengalaman lewat sharing dengan teman teman baru yang unik dan beragam 👪 once you get it wrong, just report it!

Untuk sekolah: cukup awasi pelaksanaan MOS nya ya Bapak/Ibu guru! Kami haus akan nasihat bijak Bapak/Ibu guru untuk membimbing kami!✌

image

Untuk kita semua : BANYAK BACA dan SERING-SERING BERDISKUSI BERTUKAR PIKIRAN!

Tulisan ini adalah untuk refleksi bersama, tidak untuk mencari siapa yang benar/salah. Semoga MOS menjadi ajang untuk meningkatkan kreativitas dan meningkatkan prestasi individu maupun sekolah. Tidak untuk unjuk gigi mencari sensasi dan eksistensi yang berlebihan. Kalau teman teman punya karya, otomotis akan eksis kok! Tenang aja boskoh! Come on! Remaja Balikpapan kreatif kreatif kok, salurkan kreativitas dengan benar! INGAT! ASEAN COMMUNITY Desember ini sudah mulai diterapkan, isi masa remaja dan masa muda kita se-produktif mungkin! What we are doing at this moment is an investation of what we will gain in the future! 

 LET’S DO IT RIGHT & ON TRACK!

 

-Apakah sekolah kamu adalah sekolah percontohan untuk pelaksanaan MOS terbaik?
-Apakah saya telah menjadi panitia MOS yang layak dicontoh adik-adik kelas saya?

*ask to yourself, take a deep breath and answer it honestly!* only God and you who know it 🙂

ps: kalau teman-teman punya pendapat silahkan berikan komentar melalui kolom komentar dibawah dan atau melalui sosial media saya yang lain di :

instagram : muhammadami3011
askfm : muhammadami
periscope : ami_ecb

*ditulis sambil refleksi diri dan nonton bulutangkis.
*terima kasih kalian yang sudah curhat tengah malam memberiku inspirasi untuk menulis ini.

Pengalaman Pasca APEC CEO Summit

ImageImage

 

  Sekitar pertengahan September lalu, beberapa hari sebelumnya, saya baru saja mengirimkan essay untuk mengikuti lomba ‘ABAC Writing Competition’. ABAC Writing Competition adalah lomba yang menantang para pemuda terbaik Indonesia yang mempunyai kepedulian terhadap bidang ekonomi, untuk menjadi Volunteer dan Observer di APEC CEO Summit 2013. Dan cara agar bisa terpilih adalah dengan mengirimkan karya essay dan saya mengangkat tema ‘Menjadi Anak Muda Yang Handal di APEC 2013’.

  Saya adalah orang yang positif, dan maka dari itu saya selalu mencoba untuk optimis di setiap kesempatan yang ada. Saya juga bukan merupakan orang yang suka mengesampingkan passionku karena hal lain. Bagi saya,tidak ada orang yang sibuk,hanya saja orang yang memprioritaskan hal lainketimbang hal lainnya. Dan prinsip saya ini, benar-benar teraplikasikan di saat-saat penulisan essay. Kebetulan, di Balikpapan, tempat saya tinggal, saya dan beberapa teman yang tergabung dalam Organisasi Inspirasi Muda Kaltim, dipercaya untuk melaksanakan kegiatan Roadshow Parlemen Muda Indonesia di kota Balikpapan pada 7 September. Sebuah Roadshow yang diinisiasi oleh Indonesian Future Leaders. Dan suasana menjelang hari H Roadshow, sangat hectic. Namun berkat time management yang baik, yang seperti biasanya saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari, sukses acara Roadshow Parlemen Muda dan penulisan essay sama-sama bisa terselesaikan dengan baik.

  Jumat, 13 September lalu, saya menerima telepon dari nomor yang tak dikenal, Mungkinkah? Saya biarkan dering sekejap, untuk mengumpulkan keberanian mengangkat telepon itu. lalu, setelah semua keberanianku terkumpul, saya langsung menekan tombol hijau berlogo telepon di hapeku itu. Alhamdulillah, saya berhasil menjadi satu dari lima finalis ABAC Writing Competition dan berhak untuk berangkat ke Bali. “All efforts finally paid off”. Sangat bersyukur saya berkesempatan mendapatkan pengalaman yang sangat jarang didapatkan oleh teman-teman yang lain, pengalaman yang akan mengubah hidupku, dan pandanganku mengenai hidup, ekonomi, dan Indonesia, selamanya.

  30 September telah, dan saya berangkat dari Bandara International Sepinggan Balikpapan di pagi buta, dan tiba di Bandara Ngurah Rai pada siang menjelang sore. Disana, saya dan Intan yang kebetulan satu pesawat langsung disambut oleh kak Deliza dan langsung diarahkan ke hotel, dan bertemu rekan finalis lainnya dengan latar belakang yang berbeda. Namun, kesamaan yang kita miliki adalah antusiasme dan semangat youth yang berkobar dan nyala terang.

  Mereka adalah Steven Yohanes, Mega Shafira, Aniesha Goeslina. Tiga dari mereka berasal dari Jawa, sedangkan Intan dan saya, kami membawa nama daerah kita masing-masing yang berada di luar Jawa (Lampung dan Kalimantan). Kami juga berkenalan dengan tim ABAC Indonesia, Refalya, dan Tia. Dan untuk delapan hari berikutnya, kami berbagi pengalaman yang tak ada duanya. Dan disini, mataku akan terbuka lebar mengenai ABAC dan APEC CEO Summit.

  Awalnya, saya sama sekali tidak tahu mengenai adanya APEC, terlebih mengenai ABAC. Dan disini, mataku mulai terbuka akan ‘apa itu APEC?’ ,’apa itu ABAC?’ dan juga bisa mengetahui apa peran keduanya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Juga mengenai pentingnya APEC CEO Summit. Jadi, sebelum pertemuan kepala anggota ekonomi APEC dan Business leaders dilakukan (APEC CEO Summit), telah berlangsung pertemuan 4th ABAC Meeting pada tanggal 1-4 Oktober bertempat di Ayana Resort and Spa, yang memiliki peran strategis yaitu memberikan rekomendasi kepada kepala anggota Ekonomi APEC yang nantinya akan menjadi sebuah kebijakan ekonomi. Pertemuan ABAC dilakukan empat tahun sekali berbarengan dengan pertemuan Senior Officials Meeting (SOM) di tempat yang berbeda-beda.

  Pada 1 Oktober, saya ditugaskan untuk Match up Seating Arrangement ‘Indonesia Business Luncheon’ (IBL). Siang harinya, kami (finalis) menerima briefing oleh kak Ika mengenai “Media Guide” APEC CEO Summit. Setiap briefing yang saya dapatkan, saya selalu mendapatkan informasi dan pengetahuan baru yang membuat saya terus belajar di acara ini.

  Opening 4th ABAC Meeting dilaksanakan pada hari Rabu, 2 Oktober. Untuk pertama kalinya, saya bisa melihat langsung CEO dari Indika Energy (Bapak Wishnu Wardhana), CEO Pertamina (Ibu Karen Agustiawan) dan CEO Bakrie Global Ventura (Bapak Anindya Bakrie). Mereka adalah ABAC Members Indonesia. Saya berkesempatan masuk ke dalam ruangan untuk mendengarkan perspektif ekonomi yang begitu menarik dari ketiga orang berpengaruh tersebut dan peserta yang lain.

Image

   Lalu, setelah acara opening selesai, kami bertugas mengarahkan para peserta dan ABAC Member menuju Hotel Four season, dimana dinner yang di host oleh Pertamina telah menunggu. Disinilah, saya mendapatkan kesempatan langka, yaitu bisa duduk bersebelahan dengan Professor Kenneth Morgan, seorang Economist dari Australia. Dan disana juga ada Mr. Nick Reilly, Chairman dari Emirates. Mereka berdua ditemani oleh spouse mereka masing-masing,

  Saya gunakan kesempatan ini untuk mengetahui insight dari mereka. Dan dari perbincangan produktif dan interaktif kami, ada satu hal yang sangat saya ingat. Di tengah diskusi kami, saya mengajukan sebuah pertanyaan general mengenai pendapat Prof. Kenneth tentang Indonesia. ”Your Country is so rich, you have possibly EVERYTHING we ever crave for. Resources, beautiful Islands, mining, oil, everything!”. Tanggapan positif dari beliau, membuat saya melanjutkan pembicaraan ini.”Then, in your opinion, has Indonesia developed well in the economic field?”, ”for me, not really. Your government has to work hard and involve people to grow, because it is no secret that your country lacks of better human resources”. Dan memang benar, SDM kita memang kurang, seperti yang dikatakan oleh Professor Kenneth. Dari sini, sebagai pemuda, muncul kata-kata yang harus aku ajukan kepada Professor.”What about us as Indonesian Youth? What can we do to make Indonesia better?”. Professor, sebelum memberi tanggapan, melemparkan senyuman kepadaku, maksud senyuman itu belum tergambarkan. Tetapi, aku suka berpikir, jika kembali kepada malam itu, kalau saya telah membuat beliau tergerak hatinya. Setelah senyuman, keluarlah kata-kata yang akan saya kenang dan aplikasikan nantinya. ”Get your high education, explore yourself, share what you have, and help people around you. Do what you can do for your country, but it is not only you, your people. Do it together!”.

  Saya semakin bersemangat, dengan modal pembicaraan ini, saya pasti akan menyebarkan aksi perubahan, yang tentu saja bukan hanya saya jalankan dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain. I Had one of the best Dinners of my life!. Kesempatan untuk bertemu banyak orang berpengaruh tidak sampai malam itu saja. Diluar dugaan saya, rangkaian APEC CEO Summit tidak hanya mempertemukan APEC Leaders, ABAC Members dan global business leaders saja. Tetapi juga mempertemukan 130 delegasi pemuda perwakilan anggota ekonomi APEC  “APEC VOICES OF THE FUTURE”.

Image

  Dari APEC Voices Of The Future (APEC VOF), saya mendapatkan kesempatan untuk ikut langsung menghadiri Opening Plenary dan berdialog dalam Youth Forum bersama empat panelis yaitu Mr.Anthony Newell (Chairman Valadenz Limited, New Zealand), Pak Gatot Murdiantoro (CEO PT. BNI Tbk.) dan Dr.Yang Yunsong (Chairman XY-Group International), dan Mr. Noel Gould (Chairman Virtual Trade Mission foundation International,USA dan Co-Chairman APEC Voices Leadership Council). Dalam Youth Forum ini, Dr.Yang mengatakan “Pendidikan adalah hal mendasar apabila ekonomi suatu Negara ingin terus maju dan berkembang”. Selain itu, dari Pak Gatot saya bisa highlight “If you want to manage your country’s Finance, manage your own finance first”. Dari Mr.Noel? Beliau menyampaikan “you have to be tough to prepare yourself and get ready to be a part of the Global Community, and be prepared to be a global citizen”.

 Image

   Setelah Opening Plenary dan Youth Forum, kami langsung menuju ke Green School. Green School adalah sebuah sekolah yang selain memberi edukasi dalam bentuk formal, green school juga bertujuan untuk menumbukan kesadaran kepada para siswanya mengenai pentingnya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan disekitar kita. Disini, interaksi dengan para delegasi berjalan sangat komunikatif. Dan disini juga, deklarasi APEC Voices of The Future kami buat. Beberapa isu krusial yang terdapat dalam deklarasi adalah ekonomi yang stabil, food security yang baik dan merata dan berkesinambungan. Proses bagaimana kami membuat deklarasi ini dimulai oleh setiap dari kami diminta untuk menuliskan satu kata di lembar kertas kosong, lalu dibagi menjadi kelompok dengan metode “Open Space”. Saya satu group dengan Tjiang dari China, dan Nikki dari Rusia. Group kami memperjuangkan akses universal bagi seluruh anak muda dan media global network. Dari masing-masing aspirasi tiap group, dibentuklah 15 senator yang bertugas membuat draft “APEC Voices of The Future”. Deklarasi ini adalah hal terpenting dari adanya APEC Voices of The Future, dimana kami ingin suara yang kami buat dalam deklarasi ini dapat didengar dan diperjuangkan oleh kepala anggota ekonomi APEC.

 

  Aktivitas di green school ini sangat produktif dan berjalan sangat menarik. Setelah selesai dengan rangkaian acara di green school, kami menuju Ibis Hotel, dan disini saya berkesempatan untuk berkenalan dengan delegate dari Peru yang bernama Fransisco Biber, kami duduk bersebelahan dalam bus yang sama. Hampir dua jam dalam perjalanan pulang, kami terlibat dalam percakapan hangat lintas Negara. Mulai dari gaya hidup anak muda  disana, budaya, permasalahan negara, Indigenious people hingga perasaan ikut APEC VOF. Dari Fransisco, wawasanku bertambah luas dan mendapatkan insight langsung dari orang yang berasal dari negaranya. Dari Fransisco pula, saya bisa mengetahui kalau Peru juga bersama beberapa negara di Amerika Latin, berbagi sekian persen di hutan Amazon. Jadi, bukan hanya Brazil yang memiliki hutan dengan kekayaan keanekaragaman tinggi didunia. Sungguh pembicaraan yang membangun.

  Esoknya, kami berkunjung ke Desa Kamasan, salah satu Desa Wisata terbaik di Pulau Dewata. Kami melakukan kegiatan melukis dan simulasi business plan yang penuh tantangan dan benar-benar baru bagi saya. Dari kegiatan ini, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang wayang dan ilmu bisnis yang di package sangat menarik. Setelah itu, kami lunch di Museum Bali dan melakukan History Tourism di Museum itu juga.

Image

   Aktivitas bersama teman-teman delegasi APEC VOF memberiku pemahaman bahwa open minded sangat dibutuhkan untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari berbagai Negara dengan tetap menjaga nilai-nilai asli kita (Indonesia). Dan juga saya jadi bisa mengenal ratusan delegasi dari puluhan Negara yang membuat saya termotivasi untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan kemampuan yang saya miliki untuk menjadi global citizen yang kompetitif.

  Setelah semua kegiatan ini, tibalah puncak dari KTT APEC. “APEC CEO Summit” yang mempertemukan kepala anggota ekonomi APEC dan Global leaders dimulai. Sebelumnya, pada 5 Oktober, diadakan Indonesia Business Luncheon oleh ABAC Members dan stakeholders terkait di Ayana Resort dan Spa. Saya bertugas di meja registrasi. Setelah itu, kami mengarahkan untuk menuju Bali International Convention Center (BICC) untuk menghadiri Pre-Conference “Invest Indonesia” bersama Bapak Rubini.

 

Image

  Walaupun Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama berhalangan hadir, kharisma dari Presiden Russia,Vladimir Putin dan Presiden China, Xi Jinping tetap membuat suasana APEC CEO Summit adalah sesuatu yang diantisipasi oleh dunia. Dalam kesempatan ini, saya bertemu dan berdialog dengan CEO FOXCON, Mr.Gao. saat lunch break. Beliau berpesan “you have to be a businessman in order to help your country’s economy, be the actor!”. Saya juga bertemu dengan Linda Yueh dari BBC dan terlibat dalam percakapan singkat dengannya.

Image 

Image

  Di hari pertama APEC CEO Summit, 6 Oktober. Saya bertugas di media center untuk update pers release yang memberikan sambutan dan data-data terbaru yang terjadi di Plenary (foto dan video) untuk di input dan di akses oleh seluruh media yang meliput di download center. Berkat APEC CEO Summit, saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang-orang yang berpengaruh, salah satunya adalah Kak Balqis dari TV One, pertemuan kami bukan hanya sekedar salam minta foto bareng, tetapi kita juga terlibat pembicaraan mengenai televisi, bisnis, dan tentunya seputar APEC CEO Summit dan ABAC ini. Juga bertemu News Anchor ternama, Putra Nababan. Selain itu, saya beruntung mendapatkan akses untuk ke viewing room dan mengunjungi booth-booth keren di dalam venue acara.

 Image

  Akhirnya saya berhasil masuk ke dalam salah satu sesi Plenary. Alhamdullilah, sangat bersyukur rasanya bisa menyaksikan langsung sesi dialog Menteri Perdagangan RI, Bapak Gita Wirjawan. Selain orang hebat ini, saya juga berkesempatan bisa duduk dengan delegasi APEC VOF asal Taipei yang bernama Hsin dan Shen. Pak Gita rupanya dari awal sudah berhasil mendapatkan Appreciation dan highest respect dari para peserta, atau setidaknya itulah menurutku dari hasil perbincangan dengan kedua Delegate brilliant asal Taipei tadi,  Hsin dan Shen. Dari cara Bapak Gita berbahasa inggris, dan juga cara menjawab beliau mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh moderator dan Delegate dari berbagai Negara, dan saya rasanya ikut terangkat dan bangga saat Hsin mengatakan kepada saya “you have a brilliant Minister!”.begitu banyak Inspirasi yang saya dapatkan selama berlangsungnya APEC CEO Summit di Bali International Convention Center, dari Pelnary Room, Media Center,Viewing room, Café & Exhibition sampai ke booth-booth pameran sponsor. Setiap sudut di BICC, sarat akan informasi. Menyaksikan dan menjadi bagian langsung dari suksesnya acara APEC CEO Summit, merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Oleh karenanya, saya sangat mensyukuri hal ini.

  Hari terakhir APEC CEO Summit pada 7  Oktober, di hari itu pula Delegasi APEC VOF mendekati waktu keberangkatan ke negara asal mereka setelah pertemanan selama hampir seminggu kami jalin. Malam harinya diadakan “cultural night”, suatu kehormatan saya bersama delegasi Indonesia mempersembahkan tari kecak di hadapan delegasi negara asing yang sangat mengagumi penampilan kami. Delegasi tiap negara menampilkan budaya khas mereka. Filipina dengan khas permainan serunya, Korea dengan aksi Gangnam Style. Malam itu begitu indah, tak ingin rasanya melewatinya begitu cepat.

Image

 Berkat APEC CEO Summit, ABAC dan APEC VOF, saya mendapatkan keluarga baru, pengalaman tak ternilai, pertemanan lintas Negara, pengetahuan mengenai budaya Bali, insight dari para Ahli Economy dan pengetahuan Negara-negara lain dari teman-teman Delegate lainnya. Dan juga bagaimana suatu acara besar bisa berlangsung dengan baik karena kerjasama dan kordinasi yang baik dengan semua pihak yang terkait.

 

Pengalaman yang tak ternilai ini,telah mengubah hidupku ke arah yang lebih terang dan baik. Pengetahuan dan pengalaman yang baru saya rasakan delapan hari di Pulau Dewata, telah dan akan terus saya bagi kepada teman-teman disekitarku, seperti hometown di Balikpapan,dan ditempat manapun saya berpijak. Karena membaginya adalah suatu kewajiban bagi saya. Dan semoga, berkat APEC CEO Summit, Indonesia bisa membangun ekonominya dan bergabung dengan negara-negara maju di dunia. Yah, saya percaya, dari sekarang, dari detik saya menulis essay pengalaman ini, Indonesia sedang dalam perjalanan terbaiknya.

Terima kasih ABAC Indonesia dan rekan finalis selama delapan hari dan untuk selamanya.

Sekitar pertengahan September lalu, beberapa hari sebelumnya, saya baru saja mengirimkan essay untuk mengikuti lomba ‘ABAC Writing Competition’. ABAC Writing Competition adalah lomba yang menantang para pemuda terbaik Indonesia yang mempunyai kepedulian terhadap bidang ekonomi, untuk menjadi Volunteer dan Observer di APEC CEO Summit 2013. Dan cara agar bisa terpilih adalah dengan mengirimkan karya essay dan saya mengangkat tema ‘Menjadi Anak Muda Yang Handal di APEC 2013’.

Saya adalah orang yang positif, dan maka dari itu saya selalu mencoba untuk optimis di setiap kesempatan yang ada. Saya juga bukan merupakan orang yang suka mengesampingkan passionku karena hal lain. Bagi saya,tidak ada orang yang sibuk,hanya saja orang yang memprioritaskan hal lainketimbang hal lainnya. Dan prinsip saya ini, benar-benar teraplikasikan di saat-saat penulisan essay. Kebetulan, di Balikpapan, tempat saya tinggal, saya dan beberapa teman yang tergabung dalam Organisasi Inspirasi Muda Kaltim, dipercaya untuk melaksanakan kegiatan Roadshow Parlemen Muda Indonesia di kota Balikpapan pada 7 September. Sebuah Roadshow yang diinisiasi oleh Indonesian Future Leaders. Dan suasana menjelang hari H Roadshow, sangat hectic.

Namun berkat time management yang baik, yang seperti biasanya saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari, sukses acara Roadshow Parlemen Muda dan penulisan essay sama-sama bisa terselesaikan dengan baik.

            Jumat, 13 September lalu, saya menerima telepon dari nomor yang tak dikenal, Mungkinkah? Saya biarkan dering sekejap, untuk mengumpulkan keberanian mengangkat telepon itu. lalu, setelah semua keberanianku terkumpul, saya langsung menekan tombol hijau berlogo telepon di hapeku itu. Alhamdulillah, saya berhasil menjadi satu dari lima finalis ABAC Writing Competition dan berhak untuk berangkat ke Bali. “All efforts finally paid off”.

Sangat bersyukur saya berkesempatan mendapatkan pengalaman yang sangat jarang didapatkan oleh orang, pengalaman yang akan mengubah hidupku, dan pandanganku mengenai hidup, ekonomi, dan Indonesia, selamanya.

30 September telah, dan saya berangkat dari Bandara International Sepinggan Balikpapan di pagi buta, dan tiba di Bandara Ngurah Rai pada siang menjelang sore. Disana, saya dan Intan yang kebetulan satu pesawat langsung disambut oleh kak Deliza dan langsung diarahkan ke hotel, dan bertemu rekan finalis lainnya dengan latar belakang yang berbeda. Namun, kesamaan yang kita miliki adalah antusiasme dan semangat youth yang berkobar dan nyala terang.

Mereka adalah Steven Yohanes, Mega Shafira, Aniesha Goeslina. Tiga dari mereka berasal dari Jawa, sedangkan Intan dan saya, kami membawa nama daerah kita masing-masing yang berada di luar Jawa (Lampung dan Kalimantan). Kami juga berkenalan dengan tim ABAC Indonesia, Refalya, dan Tia. Dan untuk delapan hari berikutnya, kami berbagi pengalaman yang tak ada duanya. Dan disini, mataku akan terbuka lebar mengenai ABAC dan APEC CEO Summit.

Awalnya, saya sama sekali tidak tahu mengenai adanya APEC, terlebih mengenai ABAC. Dan disini, mataku mulai terbuka akan ‘apa itu APEC?’ ,’apa itu ABAC?’ dan juga bisa mengetahui apa peran keduanya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Juga mengenai pentingnya APEC CEO Summit. Jadi, sebelum pertemuan kepala anggota ekonomi APEC dan Business leaders dilakukan (APEC CEO Summit), telah berlangsung pertemuan 4th ABAC Meeting pada tanggal 1-4 Oktober bertempat di Ayana Resort and Spa, yang memiliki peran strategis yaitu memberikan rekomendasi kepada kepala anggota Ekonomi APEC yang nantinya akan menjadi sebuah kebijakan ekonomi. Pertemuan ABAC dilakukan empat tahun sekali berbarengan dengan pertemuan Senior Officials Meeting (SOM) di tempat yang berbeda-beda.

Pada 1 Oktober, saya ditugaskan untuk Match up Seating Arrangement ‘Indonesia Business Luncheon’ (IBL). Siang harinya, kami (finalis) menerima briefing oleh kak Ika mengenai “Media Guide” APEC CEO Summit. Setiap briefing yang saya dapatkan, saya selalu mendapatkan informasi dan pengetahuan baru yang membuat saya terus belajar di acara ini.

Opening 4th ABAC Meeting dilaksanakan pada hari Rabu, 2 Oktober. Untuk pertama kalinya, saya bisa melihat langsung CEO dari Indika Energy (Bapak Wishnu Wardhana), CEO Pertamina (Ibu Karen Agustiawan) dan CEO Bakrie Global Ventura (Bapak Anindya Bakrie). Mereka adalah ABAC Members Indonesia. Saya berkesempatan masuk ke dalam ruangan untuk mendengarkan perspektif ekonomi yang begitu menarik dari ketiga orang berpengaruh tersebut dan peserta yang lain.

 

Lalu, setelah acara opening selesai, kami bertugas mengarahkan para peserta dan ABAC Member menuju Hotel Four seasons, dimana dinner yang di host oleh Pertamina telah menunggu. Disinilah, saya mendapatkan kesempatan langka, yaitu bisa duduk bersebelahan dengan Professor Kennet Morgan, seorang Economist dari Australia. Dan disana juga ada Mr. Nick Reilly, Chairman dari Emirates. Mereka berdua ditemani oleh spouse mereka masing-masing,

Saya gunakan kesempatan ini untuk mengetahui insight dari mereka. Dan dari perbincangan produktif dan interaktif kami, ada satu hal yang sangat saya ingat. Di tengah diskusi kami, saya mengajukan sebuah pertanyaan general mengenai pendapat Prof. Kenneth tentang Indonesia. ”Your Country is so rich, you have possibly EVERYTHING we ever crave for. Resources, beautiful Islands, mining, oil, everything!”. Tanggapan positif dari beliau, membuat saya melanjutkan pembicaraan ini.”Then, in your opinion, has Indonesia developed well in the economic field?”, ”for me, not really. Your government has to work hard and involve people to grow, because it is no secret that your country lacks of better human resources”. Dan memang benar, SDM kita memang kurang, seperti yang dikatakan oleh Professor Kenneth. Dari sini, sebagai pemuda, muncul kata-kata yang harus aku ajukan kepada Professor.”What about us as Indonesian Youth? What can we do to make Indonesia better?”. Professor, sebelum memberi tanggapan, melemparkan senyuman kepadaku, maksud senyuman itu belum tergambarkan. Tetapi, aku suka berpikir, jika kembali kepada malam itu, kalau saya telah membuat beliau tergerak hatinya. Setelah senyuman, keluarlah kata-kata yang akan saya kenang dan aplikasikan nantinya. ”Get your high education, explore yourself, share what you have, and help people around you. Do what you can do for your country, but it is not only you, your people. Do it together!”.

Saya semakin bersemangat, dengan modal pembicaraan ini, saya pasti akan menyebarkan aksi perubahan, yang tentu saja bukan hanya saya jalankan dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain. I Had one of the best Dinners of my life!.

Kesempatan untuk bertemu banyak orang berpengaruh tidak sampai malam itu saja. Diluar dugaan saya, rangkaian APEC CEO Summit tidak hanya mempertemukan APEC Leaders, ABAC Members dan global business leaders saja. Tetapi juga mempertemukan 130 delegasi pemuda perwakilan anggota ekonomi APEC  “APEC VOICES OF THE FUTURE”.

Dari APEC Voices Of The Future (APEC VOF), saya mendapatkan kesempatan untuk ikut langsung menghadiri Opening Plenary dan berdialog dalam Youth Forum bersama empat panelis yaitu Mr.Anthony Newell (Chairman Valadenz Limited, New Zealand), Pak Gatot Murdiantoro (CEO PT. BNI Tbk.) dan Dr.Yang Yunsong (Chairman XY-Group International), dan Mr. Noel Gould (Chairman Virtual Trade Mission foundation International,USA dan Co-Chairman APEC Voices Leadership Council). Dalam Youth Forum ini, Dr.Yang mengatakan “Pendidikan adalah hal mendasar apabila ekonomi suatu Negara ingin terus maju dan berkembang”. Selain itu, dari Pak Gatot saya bisa highlight “If you want to manage your country’s Finance, manage your own finance first”. Dari Mr.Noel? Beliau menyampaikan “you have to be tough to prepare yourself and get ready to be a part of the Global Community, and be prepared to be a global citizen”.

 

 

Setelah Opening Plenary dan Youth Forum, kami langsung menuju ke Green School. Green School adalah sebuah sekolah yang selain memberi edukasi dalam bentuk formal, green school juga bertujuan untuk menumbukan kesadaran kepada para siswanya mengenai pentingnya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan disekitar kita. Disini, interaksi dengan para delegasi berjalan sangat komunikatif. Dan disini juga, deklarasi APEC Voices of The Future kami buat. Beberapa isu krusial yang terdapat dalam deklarasi adalah ekonomi yang stabil, food security yang baik dan merata dan berkesinambungan. Proses bagaimana kami membuat deklarasi ini dimulai oleh setiap dari kami diminta untuk menuliskan satu kata di lembar kertas kosong, lalu dibagi menjadi kelompok dengan metode “Open Space”. Saya satu group dengan Tjiang dari China, dan Nikki dari Rusia. Group kami memperjuangkan akses universal bagi seluruh anak muda dan media global network. Dari masing-masing aspirasi tiap group, dibentuklah 15 senator yang bertugas membuat draft “APEC Voices of The Future”. Deklarasi ini adalah hal terpenting dari adanya APEC Voices of The Future, dimana kami ingin suara yang kami buat dalam deklarasi ini dapat didengar dan diperjuangkan oleh kepala anggota ekonomi APEC.

Aktivitas di green school ini sangat produktif dan berjalan sangat menarik. Setelah selesai dengan rangkaian acara di green school, kami menuju Ibis Hotel, dan disini saya berkesempatan untuk berkenalan dengan delegate dari Peru yang bernama Fransisco Biber, kami duduk bersebelahan dalam bus yang sama. Hampir dua jam dalam perjalanan pulang, kami terlibat dalam percakapan hangat lintas Negara. Mulai dari gaya hidup anak muda  disana, budaya, permasalahan negara, Indigenious people hingga perasaan ikut APEC VOF. Dari Fransisco, wawasanku bertambah luas dan mendapatkan insight langsung dari orang yang berasal dari negaranya. Dari Fransisco pula, saya bisa mengetahui kalau Peru juga bersama beberapa negara di Amerika Latin, berbagi sekian persen di hutan Amazon. Jadi, bukan hanya Brazil yang memiliki hutan dengan kekayaan keanekaragaman tinggi didunia. Sungguh pembicaraan yang membangun.

Esoknya, kami berkunjung ke Desa Kamasan, salah satu Desa Wisata terbaik di Pulau Dewata. Kami melakukan kegiatan melukis dan simulasi business plan yang penuh tantangan dan benar-benar baru bagi saya. Dari kegiatan ini, saya mendapatkan pengetahuan baru tentang wayang dan ilmu bisnis yang di package sangat menarik. Setelah itu, kami lunch di Museum Bali dan melakukan History Tourism di Museum itu juga.

 

 

Aktivitas bersama teman-teman delegasi APEC VOF memberiku pemahaman bahwa open minded sangat dibutuhkan untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari berbagai Negara dengan tetap menjaga nilai-nilai asli kita (Indonesia). Dan juga saya jadi bisa mengenal ratusan delegasi dari puluhan Negara yang membuat saya termotivasi untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan kemampuan yang saya miliki untuk menjadi global citizen yang kompetitif.

Setelah semua kegiatan ini, tibalah puncak dari KTT APEC. “APEC CEO Summit” yang mempertemukan kepala anggota ekonomi APEC dan Global leaders dimulai. Sebelumnya, pada 5 Oktober, diadakan Indonesia Business Luncheon oleh ABAC Members dan stakeholders terkait di Ayana Resort dan Spa. Saya bertugas di meja registrasi. Setelah itu, kami mengarahkan untuk menuju Bali International Convention Center (BICC) untuk menghadiri Pre-Conference “Invest Indonesia” bersama Bapak Rubini.

       
       

Walaupun Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama berhalangan hadir, kharisma dari Presiden Russia,Vladimir Putin dan Presiden China, Xi Jinping tetap membuat suasana APEC CEO Summit adalah sesuatu yang diantisipasi oleh dunia. Dalam kesempatan ini, saya bertemu dan berdialog dengan CEO FOXCON, Mr.Gao. saat lunch break. Beliau berpesan “you have to be a businessman in order to help your country’s economy, be the actor!,”.saya juga bertemu dengan Linda Yueh dari BBC dan terlibat dalam konversasi singkat dengannya.

 

 

Di hari pertama APEC CEO Summit, 6 Oktober. Saya bertugas di media center untuk update pers release yang memberikan sambutan dan data-data terbaru yang terjadi di Plenary (foto dan video) untuk di input dan di akses oleh seluruh media yang meliput di download center. Berkat APEC CEO Summit, saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang-orang yang berpengaruh, salah satunya adalah Kak Balqis dari TV One, pertemuan kami bukan hanya sekedar salam minta foto bareng, tetapi kita juga terlibat pembicaraan mengenai televisi, bisnis, dan tentunya seputar APEC CEO Summit dan ABAC ini. Juga bertemu News Anchor ternama,
Putra Nababan. Selain itu, saya beruntung mendapatkan akses untuk ke viewing room dan mengunjungi booth-booth keren di dalam venue acara.

 

Akhirnya saya berhasil masuk ke dalam salah satu sesi Plenary. Alhamdullilah, sangat bersyukur rasanya bisa menyaksikan langsung sesi dialog Menteri Perdagangan RI, Bapak Gita Wirjawan. Selain orang hebat ini, saya juga berkesempatan bisa duduk dengan delegasi APEC VOF asal Taipei yang bernama Hsin dan Shen. Pak Gita rupanya dari awal sudah berhasil mendapatkan Appreciation dan highest respect dari para peserta, atau setidaknya itulah menurutku dari hasil perbincangan dengan kedua Delegate brilliant asal Taipei tadi,  Hsin dan Shen. Dari cara Bapak Gita berbahasa inggris, dan juga cara menjawab beliau mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh moderator dan Delegate dari berbagai Negara, dan saya rasanya ikut terangkat dan bangga saat Hsin mengatakan kepada saya “you have a brilliant Minister!”.begitu banyak Inspirasi yang saya dapatkan selama berlangsungnya APEC CEO Summit di Bali International Convention Center, dari Pelnary Room, Media Center,Viewing room, Café & Exhibition sampai ke booth-booth pameran sponsor. Setiap sudut di BICC, sarat akan informasi. Menyaksikan dan menjadi bagian langsung dari suksesnya acara APEC CEO Summit, merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Oleh karenanya, saya sangat mensyukuri hal ini.

Hari terakhir APEC CEO Summit pada 7  Oktober, di hari itu pula Delegasi APEC VOF mendekati waktu keberangkatan ke negara asal mereka setelah pertemanan selama hampir seminggu kami jalin. Malam harinya diadakan “cultural night”, suatu kehormatan saya bersama delegasi Indonesia mempersembahkan tari kecak di hadapan delegasi negara asing yang sangat mengagumi penampilan kami. Delegasi tiap negara menampilkan budaya khas mereka. Filipina dengan khas permainan serunya, Korea dengan aksi Gangnam Style. Malam itu begitu indah, tak ingin rasanya melewatinya begitu cepat.

 Berkat APEC CEO Summit, ABAC dan APEC VOF, saya mendapatkan keluarga baru, pengalaman tak ternilai, pertemanan lintas Negara, pengetahuan mengenai budaya Bali, insight dari para Ahli Economy dan pengetahuan Negara-negara lain dari teman-teman Delegate lainnya. Dan juga bagaimana suatu acara besar bisa berlangsung dengan baik karena kerjasama dan kordinasi yang baik dengan semua pihak yang terkait.

 

Pengalaman yang tak ternilai ini,telah mengubah hidupku ke arah yang lebih terang dan baik. Pengetahuan dan pengalaman yang baru saya rasakan delapan hari di Pulau Dewata, telah dan akan terus saya bagi kepada teman-teman disekitarku, seperti hometown di Balikpapan,dan ditempat manapun saya berpijak. Karena membaginya adalah suatu kewajiban bagi saya. Dan semoga, berkat APEC CEO Summit, Indonesia bisa membangun ekonominya dan bergabung dengan negara-negara maju di dunia. Yah, saya percaya, dari sekarang, dari detik saya menulis essay pengalaman ini, Indonesia sedang dalam perjalanan terbaiknya.

Terima kasih ABAC Indonesia dan rekan finalis selama delapan hari dan untuk selamanya.

Image

Image

 

 

*Beberapa foto diambil dari official download center APEC CEO Summit

PROSES Menjadi LO & Observer APEC CEO SUMMIT 2013

ImageImage

Akhir Agustus 2013 tepatnya malam hari, aku sedang asik baca timeline twitter saya dan tidak sengaja terbaca retweet-an teman (rutinitas yang biasa saya lakukan untuk mencari informasi). Retweet-an dari akun twitter @ABACYouth membuat aku kepo dan menemukan informasi “ABAC Writing Competition” (link infonya http://abacindonesia-society.com/).

Awalnya, seperti yang saya lakukan ketika ingin mendaftar kompetisi : Membaca segala informasinya hingga super jelas 🙂 NANTANG BANGET! itulah dua kata yang menggambarkan perasaanku ketika sudah membaca semua informasi ABAC Writing Competition. 1. Sejujurnya aku masih jarang nulis  2. Materi yang ditulis tentang ekonomi (secara aku belum pernah sama sekali nulis tentang ekonomi coy) 3. Minimal 900 kata (500 kata aja cari inspirasi tulisan kemana-mana) 4. Yang ditulis harus ada relevansinya dengan APEC CEO Summit & ABAC (hmhmhm, okay).

Ketika ada kemauan dibarengi dengan usaha dan doa, Insya Allah ada jalan. Ya, Alhamdulillah lima anak muda Indonesia @anieshagh @polhaupessy @ncikIntan dan @megsafira dan saya berkesempatan menjadi Liaison Officer (LO) dan juga Observer di acara sekelas APEC CEO SUMMIT di Bali. Tapi, disini aku ingin teman-teman tahu proses hingga lolos seleksi dan tahapannya apa aja dengan harapan teman-teman bisa terdorong untuk lebih partisipatif dan menjemput setiap kesempatan yang ada untuk diikuti. Berikut prosesnya :

Pertama, sebelum saya mengirim formulir registrasi bersamaan dengan tulisan saya, saya mencari banyak referensi tulisan tentang ekonomi Indonesia yang saya save di laptop untuk saya baca-baca di malam hari (rutinitas waktu membaca saya) sebagai inspirasi tulisan yang akan saya buat untuk pertama kalinya tentang ekonomi. (seriously, this is so challenging!)

Kedua, minggu awal September, roadshow Parlemen Muda Indonesia di Kota Balikpapan memasuki H-7 dan keterlibatan saya sebagai panitia membuat pembagian waktu untuk menulis begitu ketat. Saya bukan tipikal anak muda yang suka cari alasan hingga mengabaikan sesuatu yg sangat saya inginkan. Jadi, sembari saya follow up acara dan rapat panitia, hampir tiap malamnya saya mencicil tulisan (i was fighting super hard for this). Saya ingat betul, H-3 batas terakhir pengiriman tulisan (8 September pukul 23.59 WIB) yang juga H-2 roadshow Parlemen Muda (7 September), waktu seakan berjalan super cepat. Kamis malam saya fokus untuk melanjutkan cicilan tulisan saya, karena saya sadar Jumat dan Sabtu (6 dan 7 September) adalah harinya Roadshow Parlemen Muda dan stuck di 593 kata yang artinya minimal 900 aja belum mencukupi syarat.

Jumat, 6 September yang merupakan gladi resik adalah hari yang tidak bisa ditawar karena kesuksesan roadshow Parlemen Muda esok hari akan diukur di GR ini. Jumat itu menjadi hari yang sangat membahagiakan bertemu dgn puluhan anak muda yang menaruh harapan besar untuk roadshow dan bertemu perwakilan roadshow officer (@niwadwitama & @SirlyWNasir) juga mas @Iwan9s10a. Memutuskan untuk tidur di venue acara adalah keputusan tepat yang saya ambil. Dini hari pukul 02.00 @kakekmuda_H50, @wirawirooo (my best bro) dan saya ke MCD Plaza Balikpapan. Menyempatkan waktu untuk mencicil tulisan pun saya lakukan di tengah malam. Sumbangsih pemikiran Kakek & Wira sangat membantu saya. Thanks for you both, dear brothers. Walaupun tulisan baru mencapai 720-an kata, saya masih punya satu hari untuk menyelesaikannya. Akhirnya kami kembali ke venue pukul 03.45 WITA dengan hujan deras (sweet moment)

-menghargai proses setiap orang adalah sangat penting- 

7 September adalah harinya roadshow Parlemen Muda dan sudah pasti saya tidak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan cicilan tulisan saya. Roadshow berjalan lancar, pukul 01.30 dini haru saya baru sampai di rumah dan memutuskan untuk melanjutkan tulisan saya di tanggal 8 siang hari yg merupakan hari terakhir pengumpulan tulisan (teman-teman jangan jadi deadliner ya :D)

Minggu, 8 September 2013 hari terakhir pengiriman formulir registrasi+tulisan. Siang hari saya ke MCD lagi (mata panda banget deh), benar-benar fokus menyelesaikan tulisan saya dan Alhamdulillah dengan niat yang kuat dan kemauan yang begitu besar untuk menjadi bagian dari kesuksesan APEC CEO SUMMIT dan ABAC, tulisan saya pun selesai dan menembus lebih dari 1000 kata lebih dikit loh 🙂 

Perasaan saya ketika berhasil menulis tulisan pertama saya tentang ekonomi rasanya bahagia banget. Secara saya kan fokusnya pada penguatan anak muda, belum kuliah juga bukan wirausaha. Buat banyak orang mungkin ini biasa banget (nothing special), namun dengan melihat proses saya membuat tulisan ini itu jadi super special! 

Tiga hari pasca mengirimkan tulisan saya, 11 September tim panitia forward email ke inspirasimudakaltim@gmail.com (karena saat itu email yahoo pribadi saya bermasalah).

Dan begini isi awal email tersebut :

Dear Muhammad Ami,

Artikel yang telah kamu daftarkan untuk mengikuti ABAC Writing Competition telah lolos seleksi tahap pertama.
Tulisan pertama saya tentang ekonomi bertemakan “Menjadi Anak Muda Indonesia Yang Handal Melalui APEC 2013” dimuat di web ABAC di link ini :
 (http://abacindonesia-society.com/menjadi-anak-muda-indonesia-yang-handal-melalui-apec-2013/).
 
Argh, nilai spesial itu bertambah dan senangnya bukan main. Lolos tahap pertama aja senang dong ya, walaupun masih ada tahap berikutnya yaitu “phone interview” di hari Jumat, 13 September. Jam 10-an pagi saya ditelpon oleh tim panitia (ada tiga interviewers), pertanyaan tentang diri saya, aktivitas dan pengalaman saya Alhamdulillah bisa saya jawab dengan baik. Selang beberapa jam, saya mendapatkan telpon lagi dari kak Angga “Halo Ami, selamat kamu lolos menjadi salah satu dari lime pemanang ABAC Writing Competition dan akan berangkat ke Bali akhir September ini”. Spesial itu menjadi +++++++++
 
Usaha hingga larut malam itu akhirnya terbayar sudah.
 

Seminggu yang padat untuk menyelesaikan tulisan penuh tantangan besar itu kini telah bertransformasi menjadi kesempatan menjadi LO dan Observer APEC CEO Summit 2013 dan kami akan berangkat ke Bali mulai tanggal 30 September sampai 8 Oktober.

 
 
Setiap individu memilki proses yang berbeda-beda untuk kesempatan yang sama seperti yang saya tulis ini. Untuk itu, hargai proses setiap orang di sekitar ya. Dan semoga partisipasi anak muda di Provinsi Kaltim semakin besar di event Nasional dan Internasional.

Special thanks to : Kakek, Wira dan ABAC.

-Ditulis pada 23 September selesai pukul 14.30 di pojokan lantai 2 MCD Plaza Balikpapan-

yang berproses : Muhammad Ami

 

Menjadi Anak Muda Indonesia Yang Handal Melalui APEC 2013

Penyelenggaraan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Oktober 2013 di Bali, merupakan momentum “emas” untuk Indonesia dalam rangka memperkenalkan dan belajar banyak guna meningkatkan kekuatan dan stabilitas ekonomi Indonesia melalui pertemuan APEC CEO Summit yang difasilitasi oleh APEC Advisory Business Council (ABAC). Dengan tema APEC tahun ini “Towards Resilience and Growth : Reshaping Priorities for Global Economy”, saya sebagai generasi muda Indonesia yang sangat optimis, yakin acara ini akan melahirkan banyak ide, gagasan, solusi dan fakta baru seputar kondisi ekonomi di kawasan Asia Pasific khususnya di Indonesia dimana ekonomi kita masih terbilang stabil. Bahkan, Bank Indonesia sudah menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia paling stabil dalam 4-5 tahun terakhir.

Dalam perkembangannya, ekonomi Indonesia telah terbukti benar bahwa perkembangan ekonomi di Indonesia termasuk yang terpesat diantara negara-negara berkembang di kawasan Asia Pasific, dan untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia adalah urutan pertama dalam negara yang perkembangan ekonominya baik dan terbilang pesat (yang kita bisa lihat dari pertumbuhan pesat 6%) dan sebagai pemuda Indonesia, saya percaya, kita berada dalam jalur yang benar.

Dengan pertumbuhan ekonomi seperti ini, kita bisa menjadi negara maju, mengikuti  negara tetangga kita, Malaysia, Brunei Darrusalam, dan Singapore (kesampingkan masalah KKN yang memprihatinkan). Kita sudah tahu bahwa Indonesia sebentar lagi bukan merupakan negara yang mengekspor minyak. Bisa dilihat dari angka ekspor kita yang pada pertengahan Tahun 2012, Indonesia mengekspor minyak sebesar 400.000 Bph (Barrel Per-Hari), sedangkan pada tahun itu bangsa kita mengimpor minyak sebanyak 500.000 Bph. Terlihat defisit yang jelas, lalu bagaimana dengan sekarang?

Angka-angka itu telah berubah pada awal 2013 kemarin. Dengan catatan ekspor sebanyak 200.000 Bph. Itu merupakan penurunan yang cepat sekali, dan bagi negara penghasil minyak seperti Indonesia, ini adalah sinyal kuning. Namun, jika melihat dari angka impor kita, impor minyak Indonesia juga berkurang menjadi 300.000 Bph.

Apa artinya ini? Salah satu artinya bahwa Indonesia sudah mulai mencari energi alternatif untuk menyokong Perekonomian Bangsa. Kita masih memiliki minyak, kita masih memiliki Gas Alam, dan juga bidang Pariwisata kita yang sangat menjanjikan yang telah dikenal di dunia , hanya saja pemerintah secara keseluruhan belum mengoptimalisasikannya.

1.    Ajang Mempromosikan dan Meningkatkan Ekonomi Indonesia di Bidang Pariwisata

Sebagai seorang Duta Wisata, saya melihat potensi pariwisata Indonesia begitu menjanjikan dengan keindahan alam yang ada di seluruh pelosok negeri. Industri Pariwsata tidak akan pernah mati, justru akan terus berkembang (dinamis) dan di sektor  pariwisata ini, ekonomi Indonesia dapat menjadi satu dari beberapa kekuatan ekonomi baru karena tingginya jumlah wisatawan mancanegara yang terus berkunjung ke negara kita.

 Sebagaimana yang dilansir laman setgab.go.id, pada akhir April 2013 kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 646,1 ribu orang atau naik 3,20 persen, dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada April 2012, yang berjumlah 626,1 ribu kunjungan. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Maret 2013, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada April 2013 turun sebesar 10,92 persen. Data ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam keterangan pers di kantor BPS, Jakarta. 

Sektor Pariwisata kini pun kian berkembang, ada yang menerapkan Eco Wisata hingga Desa wisata. Disini jelas, ekonomi Indonesia akan ikut terdongkrak dan menguatkan ekonomi kerakyatan bagi seluruh pelaku bisnis (tempat penginapan, toko souvenir, warung makan, transportasi). Anak Muda Indonesia pun dapat terlibat aktif di sektor ini dengan menjadi pemandu wisata dan seorang marketer handal. Hanya saja, diperlukan strategi promosi yang merata di seluruh wilayah Indonesia (34 Provinsi) yang dalam hal ini dilakukan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan usaha jasa Pariwisata untuk menarik minat calon wisatawan berkunjung ke Indonesia.

Dengan diadakannya APEC CEO Summit di Bali, Pemerintah Indonesia bersama ABAC dan seluruh stakeholders dapat memanfaatkan kesempatan baik ini untuk bersama mengenalkan keindahan pariwisata Indonesia yang tidak hanya ada di pulau Bali, namun keindahan itu ada di 34 provinsi di Indonesia. Jika melihat dari tinjauan alternatif ini, kita bisa melihat perkembangan ekonomi Indonesia akan tetap stabil dan melaju tanpa minyak. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, sudah seharusnya kita menggunakan kesempatan ini dan menjadi generasi yang akan melanjutkan  estafet pembangunan ekonomi, melalui pencarian energi alternative, untuk mengantisipasi dari hilangnya minyak di Indonesia. Dan menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia siap bergabung menjadi negara maju, kalau Indonesia siap mempertahankan bahkan meningkatkan pertumbuhan ekonominya yang sekarang sudah terpesat di kawasan Asia Tenggara.

2.        Inspirasi Melahirkan Wirausaha Muda Yang Kompetitif 

Yang tak kalah penting dari rangkaian acara APEC, APEC CEO SUMMIT dan ABAC ini bagi saya adalah dapat menumbuhkan wirausaha-wirausaha muda yang kita yakini dapat menjadi bagian dari solusi penguatan ekonomi dalam negeri. Seperti kita tahu, di Indonesia saat ini sedang trend “young entrepreneur” bahkan kini muncul social entrepreneur  yang secara langsung akan ikut membantu mendorong ekonomi Indonesia.

Akan jelas bermanfaat apabila APEC Business Advisory Council (ABAC) melalui APEC Summit ini dapat mewadahi calon dan juga wirausaha-wirausaha muda untuk saling bertemu, berdialog dan berkesempatan untuk sekedar bertukaf fikiran di salah satu sesi. Ini peluang yang sangat langka dan penting yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh ABAC untuk menjembatani wirausaha muda kita dengan para CEO di kawasan Asia Pacific untuk memberikan inspirasi, saran dan juga ide. Dengan harapan, wirausaha muda Indonesia dapat termotivasi untuk mengembangkan usaha mereka tidak hanya di dalam negeri serta mampu menjadi pelaku ekonomi global yang memiliki daya saing tinggi dan wirausah muda itu berasal dari Indonesia dan jumlah mereka harus banyak.

Ketua himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jabar Dede Sumirto mengatakan, secara general jumlah pengusaha muda di Indonesia hanya 0,18% dibanding  jumlah total penduduk.

“Angka tersebut masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan rasio populasi pengusaha muda di negara-negara ASEAN lainnya,” kata Dede. Dede menilai, jumlah populasi pengusaha muda tersebut bisa menggambarkan kondisi perekonomian suatu negara di masa mendatang, karena dari kumpulan para pengusaha muda itulah, nantinya lahir pengusaha utama dalam perekonomian.

Disini terlihat jelas, generasi muda memiliki peran yang begitu strategis untuk mempertahankan stabilitas ekonomi juga menjadi pelaku utama ekonomi di tingkat global. Dukungan berupa pelatihan, workshop, intensive training, coaching dan bantuan funding dari Pemerintah dan pemangku kepentingan dapat meningkatkan dan menjadi pemicu untuk melahirkan wirausaha muda kita.

Saya percaya, suatu hari nanti, kita , bangsa Indonesia, akan menjadi negara yang berhasil memberdayakan perkembangan ekonominya ke level selanjutnya, dan bergabung dalam komunitas negara maju dunia dan tentunya keterlibatan anak muda Indonesia sebagai pelaku ekonomi global yang semakin tinggi. Untuk itu, melalui pertemuan APEC CEO Summit serta pertemuan ABAC ini, saya mengharapkan dapat menguatkan kerja sama Indonesia di bidang ekonomi di kawasan Asia Pasifik, menjadi inspirasi wirausaha muda Indonesia, mempromosikan pariwisata Indonesia serta memberikan pengalaman berharga untuk disebarkan oleh semua warga Indonesia yang terlibat termasuk volunteer dan LO seperti saya yang sadar akan pentingnya peran anak muda untuk penguatan ekonomi bangsa.

 -Ini adalah tulisan pertama saya tentang Ekonomi dan Semoga saya Berkesempatan untuk Menjadi Volunteer dan LO-

Ditulis oleh : Muhammad Ami

 

Second day in Jakarta

– Wednesday, April 04, 2012 –

MORNING JAKARTA.

On my second day in Jakarta, i woke up at 08.00 (it was becaused i slept too late).

I had shower at 08.25 and prepared all for today, the main thing is my stuffs for Paramadina Fellowship (PF) 2012. I texted Mery (My friend from National competition in 2009 from Lampung) to accompany me.

I left the house at 09.00 and took ojek and stopped in front of Peninsula hotel (Slipi Jaya), then i went to Paramadina University by busway. It was very crowded in busway and people looked busy on theirself. I saw around the way ( I looked so countrified (NDESO) ) while people took care for their stuffs, i was just busy to saw the buildings from the busway.

I stopped at Tegal Parang station, i was confused to found where Paramadina is. I asked people on the station and the first person kept running (i felt so surprised with her act) and i asked again to the other person and she just pointed the way and AGAIN KEPT RUNNING.

I concluded : hope people i asked were not the sign of Jakarta’s people in general. (forget it)

I saw from the station there is Industry Ministry and Trans TV office, AGAIN N AGAIN they made impressed. I walked during the way to Paramadina and fortunately there was security showed me the way to get Paramadina. And finally i got Paramadina University and felt very happy.

When i arrived front of Paramadina, i texted kak Fathia (Ambassador of Paramadina University) and asked her favor to came along with me. She is a nice woman and low profile, before she accompanied me to see around the university, i collected my administration first. After that we went to canteed and had lunch there. While eating, she talked about the university and its programs.

In canteen, i concerned to see students’ activities. They talked each other (i don’t know what was it about) and she introduce me to one of her friend.

After lunch I went to the library and she continued her lesson (thank you very much kak Fathia). The library is so cozy and convenience. I read a book while waiting for Mery. Finally she came and for seond time we saw around the university, then i asked Mery to take my picture. After that, we went to eat chicken noodle (mie ayam) close to Trans TV office.

I felt glad could see Trans TV directly, then continued going to Bunderan HI and taking busway. Again and Again, i was impressed when stopped Bunderan HI station. Sure, i didn’t want to skip the time taking picture there. We also came to Indonesia plaza (it is very expensive mall ever i visited). Many skycraper buildings around bunderan HI.

After enjoying afternoon time at Bunderan HI, next we went to National Monument. The monumnet is quite tall with its huge park. We took picture together and sat around the park. After that, we separated on busway station (Thanks alot Mery). I went to Central Park mall to met Kak Eva (Miss Tourism Indonesia from North Sumatera). Our appointment was at 17.00, but i waited her for two and a half (because she had meeting at her office). Glad to saw her, we had dinner at solaria and talked many things.

Finally it finished, we came home.

Thanks Kak Fathia, Mery and Kak Eva to be part of my second day in Jakarta.

I arrived at Kak Achmad’s house at 23.30 and went to bed at 01.00 a.m

 

– NIGHT AND SEE YOU –

 

 

My first coming to Jakarta

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Hello everybody, let me share my first experience coming to Metropolitan city of Indonesia “JAKARTA”.

IT IS THE DAY!

– April 03, 2012 -.

My flight to Jakarta was at 20.25. It was also my last day to accompany Leon “My friend from Netherland”  in Balikpapan.

He came to Balikpapan since May 30 and during his coming here, almost all the time i brought him around to explore Balikpapan city.

And it’s time for him to continued his trip to Palu. At 08.00 I came to his guest house and helped him for packing time, after that we went to Rafli’s house (My student) to asked permission. We teached Rafli and Zahra for thirty minutes and when the time showed 11.00, we had to go and you know what? Rafli’s family including their mother looked sad and they seemed going to shed tears.

IT IS LIFE, when there is meeting, there is farewell.

I could feel what they’re feeling when we got out from their house. (Sad time)

Then, we came back to the guest house and prepared going to the airport. We thanked to Ibu Nur (the officer of 268 guest house).

On the way to airport, i had a bit talk to Leon and said to him to come back here one day with Remy.

At airport, i was sad and said good bye to Leon.

See you next time Mate.

– In the Afternoon –

After escorted him to the airport, i came around to my office to ask permission and then i continued going to Kebun sayur Market to buy some souvenirs for my friends, it was raining cats and dogs.

At home, i packed my stuffs and i just brought three pieces of clothes. Because my main purpose to Jakarta was to give my administrations for Paramadina Fellowship 2012.

I asked my mom’s permission also her pray for me. My brother dropped me to the airport.

– In the evening at airport –

I arrived at 18.10, means i had to wait about 2.10 hours. So I decided to wait at Solaria and had drink while waitinf for my flight.

I met Kak Mona (Miss tourism of East Kalimantan 2011).  At 19.20 i checked in for my flight and sat on waiting room.

Finally at 20.25 i entered the plane. on the plane i enjoyed the view and saw around on the down.

– In Jakarta –

Praise be to Allah, i arrived safely to Soekarno Hatta’s airport and for the first time i came here.

JAKARTA I’M COMING.

Seemed the rain would love to welcome my first coming to the capital of Indonesia Republic.

The airport is quite big and i was confused how to get my friend’s house (Kak Achmad from couch surfing).

So, with his direction i took Damri. In bus, i couldn’t stop seeing on my right and left side.

Everywhere many tall buildings, i stopped at Slipi Jaya close to Peninsula Hotel, West Jakarta.

I waited Kak Achmad under the road and ate (kind of  bakso). I talked to a couple asking about Jakarta and you know, they said “becareful in Jakarta Mas, do not trust easily”

As my guessed before,haha.

Finally Kak Achmad came to pick me up. I know him from couchsurfing (a website for backpacker) and i’m lucky because he could host me for two days.

He lives in Rumah Susun, it is a good house. At his house, he made me fried rice and we ate together.

After that i brushed my teeth and went to bed. Thank you very much for your kind Kak Achmad.

GOOD NIGHT JAKARTA.

– IT WAS A LONG DAY –

Cheers,

Muhammad Ami