MOS, saatnya BERKREASI atau SENSASI (?)

Hello bosko!
Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1436 H untuk teman-teman yang sedang merayakannya :mrgreen:

image

Straight to the point aja deh ya boskooo….
Jadi di Kota yang paling dicintai di dunia versi WWF ini KOTA BALIKPAPAN lagi hebring isu pelaksanaan MOS yang dalam hitungan beberapa hari lagi akan dilaksanakan. So pasti pro kontra adalah hal yang lumrah. Yang pasti satu hal: BERBEDA ITU BIASA, SALING HARGAI! Namanya juga manusia, 100 kepala bullshit pikirannya sama semua.

Well, MOS ini jadi isu yang makin hangat di sosial media khususnya untuk remaja Balikpapan yang akan menjalaninya (SMP & SMA). Yang akan menjalani MOS (siswa baru), meminta agar MOS tidak ada unsur bullying dan kalau bisa ramah anak. Kalau yang dimaksud “bullying” disini adalah seperti : pakai name tag berbahan kardus bekas, tas berbahan kompek, pita berbahan sedotan, dibentak senior, dll (you name it lah). Apakah teman-teman merasa ini bentuk bullying? Atau malah ada yang lain yang lebih ekstrim? Atau justru MOS yang begini akan dikenang sepanjang masa?

Pointnya disini : Jadikanlah MOS yang cuma 3 hari untuk dikenang setiap hari! Make it memorable and unforgettable!

WARISKAN MOS YANG TAULADAN UNTUK DILANJUTKAN!

Kalau dari penyelenggara MOS (OSIS) menganggap ini hal biasa aja. Ada juga yang bilang ‘untuk melatih mental’ bahkan warisan dari senior terdahulu ☺ yang pasti, mau nggak mau, suka tidak suka MOS pasti ada dan akan jadi ajang pemanasan sebelum masuk sekolah. Pertanyaannya kemudian: bentuk MOS seperti apa sih yang ideal untuk diterapkan? Apakah benar dengan cara (yang sudah disebutkan) benar benar melatih mental? Atau malah menjatuhkan mental? Sudah berkualitaskah ini semua?

in my very humble opinion (IMHO), kalau cara cara yang melatih mental masih banyak yang bisa diterapkan selain cara cara di atas (saya sarankan khususnya penyelenggara MOS banyak baca dan sharing untuk menerapkan bentuk MOS yang ideal).

Kita kembali ke kata MOS (masa ORIENTASI siswa) dulu yuk! Idealnya, MOS di sekolah harusnya jadi ajang untuk memperkenalkan sekolah (prestasi sekolah dan visi misi sekolah) agar bisa menumbuhkan rasa bangga siswa sama sekolahnya dan menstimulasi siswa menjadi kreatif. Sederhananya : menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk belajar selama 3 tahun ke depan :mrgreen:

Saran saya untuk OSIS sebagai penyelenggara MOS : maknailah kata ‘senior’ sebagai panutan(tauladan), maka kalian akan tahu harus bersikap seperti apa ke junior. Jadikan MOS di sekolah kalian sebagai ajang kompetisi siswa baru (junior kalian) untuk saling berlomba mengharumkan nama sekolah kalian. Seleksi anggota panitia MOS dan bekali kapasitas untuk mereka agar tidak salah gocek memberikan orientasi di lapangan (saya punya beberapa teman yang bisa membantu untuk memberikan kapasitas ini) just let me know 😉 Paling penting : Buatlah junior kalian BANGGA memiliki senior seperti Anda!

Untuk yang akan di MOS, nikmatin aja boskoh! Insha Allah MOS akan jadi momentum awal kalian untuk bangga sama sekolah dan seisinya. Juga akan jadi ajang kalian untuk memperkaya pengalaman lewat sharing dengan teman teman baru yang unik dan beragam 👪 once you get it wrong, just report it!

Untuk sekolah: cukup awasi pelaksanaan MOS nya ya Bapak/Ibu guru! Kami haus akan nasihat bijak Bapak/Ibu guru untuk membimbing kami!✌

image

Untuk kita semua : BANYAK BACA dan SERING-SERING BERDISKUSI BERTUKAR PIKIRAN!

Tulisan ini adalah untuk refleksi bersama, tidak untuk mencari siapa yang benar/salah. Semoga MOS menjadi ajang untuk meningkatkan kreativitas dan meningkatkan prestasi individu maupun sekolah. Tidak untuk unjuk gigi mencari sensasi dan eksistensi yang berlebihan. Kalau teman teman punya karya, otomotis akan eksis kok! Tenang aja boskoh! Come on! Remaja Balikpapan kreatif kreatif kok, salurkan kreativitas dengan benar! INGAT! ASEAN COMMUNITY Desember ini sudah mulai diterapkan, isi masa remaja dan masa muda kita se-produktif mungkin! What we are doing at this moment is an investation of what we will gain in the future! 

 LET’S DO IT RIGHT & ON TRACK!

 

-Apakah sekolah kamu adalah sekolah percontohan untuk pelaksanaan MOS terbaik?
-Apakah saya telah menjadi panitia MOS yang layak dicontoh adik-adik kelas saya?

*ask to yourself, take a deep breath and answer it honestly!* only God and you who know it 🙂

ps: kalau teman-teman punya pendapat silahkan berikan komentar melalui kolom komentar dibawah dan atau melalui sosial media saya yang lain di :

instagram : muhammadami3011
askfm : muhammadami
periscope : ami_ecb

*ditulis sambil refleksi diri dan nonton bulutangkis.
*terima kasih kalian yang sudah curhat tengah malam memberiku inspirasi untuk menulis ini.

Advertisements

Saya sudah LULUS SMA, TAPI saya BELUM KULIAH

SAYA SUDAH LULUS SMA TAPI BELUM JUGA KULIAH

Masa-masa sekolah adalah masa dimana kita bisa mencari dan mendapatkan banyak hal yang di dorong oleh rasa ingin tahu yang begitu besar, ya itulah yang saya alami ketika menjadi seorang siswa dulu.

Lulus pada tahun 2010 di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di kota Balikpapan, perasaan saya ketika itu pastinya sama seperti teman-teman lainnya, bahagia dan bangga dapat menyelesaikan studi selama dua belas tahun wajib belajar dengan banyaknya cerita yang tak habis untuk dijadikan obrolan kepada teman-teman.

Setelah lulus, tibalah saatnya sebuah fase kehidupan dimana tanggung jawab kita menjadi lebih besar dan saya menganggap saya kembali naik kelas. Tetapi dalam hal ini naik kelas pada level yang jauh lebih berat.  Tuntutan dan harapan orang tua menjadi semakin besar, setidaknya itulah yang saya rasakan hingga detik ini.

Buat teman-teman yang lulus SMA dan orang tuanya berkecukupan, saya yakin PASTI banyak diantara kalian yang dengan mudah melanjutkan jenjang pendidikan ke sebuah PTN (Perguruan Negeri Tinggi) atau PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang telah kalian idamkan, Let me say this “ YOU MUST BE THANKFUL TO YOUR PARENTS” . Teman-teman harus paham bahwa orang tua kalian menginginkan masa depan yang cerah dengan menjadi seorang sarjana. Sometimes I feel envy to you all, namun envy dalam arti seandainya keadaan orang tua saya sama seperti kalian. Ah, Forget it!

Mei 2010 saya belum menerima ijazah, tetapi orang tua sudah terlihat sibuk mencarikan pekerjaan untuk saya, om dan tante saya selalu didatangi oleh mamak dan meminta bantuan kepada mereka agar dapat memasukkan saya di salah satu tempat mereka bekerja. Namun dengan inisiatif dan kebetulan pada saat itu saya ditawari untuk menjadi instruktur pengganti di salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris, saya langsung mengambil tawaran tersebut dan setelah berjalan beberapa minggu, saya sangat menikmati menjadi seorang guru bahasa inggris di sebuah lembaga kursus yang masih establish.

Ketika menerima ijazah, aktivitas yang biasanya setiap pagi harus ke sekolah kini telah berubah. Arah angkot yang biasa saya jalani pun kini telah berbeda arah, kini saya telah bekerja dan harus mempersiapkan materi pelajaran yang akan diajarkan. Sebuah pengalaman baru yang membuat saya enjoy dan merasakan betapa sabarnya menjadi seorang guru ketika mentransfer ilmu kepada muridnya.

Orang tua saya, terutama mamak saya semakin geram ketika menanyakan “Ami, mau sampai kapan kamu menjadi guru les?”, saya hanya diam dan ketika itu saya tidak tau harus menjawab apa. Ini mamak sudah mintakan om mu kerjaan di tempatnya, buat sudah surat lamaran, kata mamak saya. Malam itu, saya kembali diam dan segera tidur sambil memikirkan kata beliau  barusan.

Setelah malam itu, waktu terus berjalan hingga dua minggu berikutnya. Tibalah om datang ke rumah dan menanyakan  apakah saya jadi kerja di tempatnya atau tidak. Pulang mengajar, mamak meminta surat lamaran yang waktu itu dimintanya. Saya dengan keberanian mengatakan “mak, saya tidak mau kerja tempat om. Saya mau ngajar aja”. Spontan mendengar jawaban itu, mamak saya langsung marah dan tidak berhenti mengomeli saya hingga esok hari.

Yang ada dalam hati saya, semoga ini bukan bentuk ketidakbaktian kepada orang tua saya. Saya pun ingin membahagiakan beliau, menaikkan haji, membelikan rumah, TAPI DENGAN CARA SAYA.

Akhirnya saya semakin sadar bahwa jurusan yang telah saya pelajari selama tiga tahun di SMK, bukanlah jurusan yang tepat dengan minat dan bakat saya. Tetapi saya juga tidak ingin menyalahkan orang tua yang telah memilihkan jurusan tersebut.

Untuk teman-teman yang membaca ini “THIS IS A BIG LESSON” KETIKA KALIAN LULUS SMP DAN AKAN MELANJUTKAN KE SMA ATAUPUN SMK, PILIHLAH JURUSAN YANG SESUAI DENGAN PASSION (INTEREST) KALIAN. Yang saya perhatikan, kenapa banyak teman-teman SMA yang ingin masuk IPA? Seakan-akan tidak ada jurusan IPS atau bahasa. Apakah kalian memilih jurusan IPA memang sesuai passsion kalian? atau gengsi? atau karena ikut-ikutan? Kalau pada saat lulus, kalian memilih jurusan Ilmu politik.

RENUNGKAN dan Sampaikan ke orang tua tentang passion kalian. Saya harap, tidak akan ada lagi teman-teman yang salah dalam memilih jurusan seperti saya. BE MATURE

Mamak saya bersikeras untuk memasukkan saya di tempat om saya bekerja dengan alasan gaji yang cukup untuk membiayai adik saya yang ketika itu masih dua orang bersekolah. Kenapa harus saya yang membiayai kedua adik saya? Karena Bapak saya telah menikah lagi dan sudah sangat jarang menafkahi kami. Sementara kakak pertama saya cewe telah menikah dan memiliki tiga orang anak dengan penghasilan yang hanya cukup untuk keluarganya, kakak kedua saya cewe menjadi TKI di Malaysia, sementara yang ketiga karyawan biasa, yang keempat loker Koran dan kelima bekerja di sebuah studio foto. Dan mereka bertigalah yang membiayai kami ketika saya dan kedua adik saya sekolah yang membuat cita-cita kakak kelima saya untuk kuliah hanyalah tinggal sebuah cita-cita yang hingga saat ini belum terealisasi.

Mungkin saya egois, tetapi saya juga tidak ingin memaksakan diri untuk bekerja yang saya tidak sukai. Kakak-kakak saya pun terkadang memarahi dan menasehati saya. Keegoisan saya semakin besar ketika saya lolos seleksi Jambore Pemuda Indonesia dimana saya harus mengikuti program tersebut selama dua bulan dan ketika kembali di Balikpapan saya memutuskan  untuk bekerja di lembaga kursus. Namun, bukannya mencari kerja, saya harus membantu sebuah event kompetisi salah satu organisasi yang memberikan saya banyak ilmu. Jadi, saat itu Akhir Juli 2011 bertepatan dengan bulan ramadhan hingga menjelang kompetisi tersebut orang tua dan keluarga mengira saya masih bekerja di tempat yang sama. Karena saat mengurusi kompetisi tersebut, hampir setiap hari dari pagi hingga sore hari saya tidak berada di rumah dan menggunakan pakaian kerja.

Satu yang pasti, saya senang melakukan aktivitas seperti ini dan sangat membuat saya menjadi semakin produktif. Setelah kompetisi selesai pada pertengahan November 2011, disinilah saya berani mengatakan bahwa saya telah menemukan apa yang menjadi minat dan passion saya. Dan pada fase inilah saya mulai terdorong untuk kuliah dan orang-orang terdekat pun sangat mendukung.

Tetapi saya mencoba realistis  jika saya ingin kuliah tanpa adanya beasiswa tentu saya sedang bermimpi di siang bolong, orang tua belum mampu untuk membiayai dan saya pun belum memiliki tabungan.

Hingga akhirnya pada Februari 2012, salah seorang teman saya memberikan link informasi mengenai Paramadina Fellowship 2012 yang segala biayanya gratis. Saya pun langsung mendownload form dan hari-hari berikutnya sekitar dua minggu lamanya mulai mengisi dan melengkapi berkas administrasi. Disini, niat untuk kuliah pun semakin besar dengan ekspektasi yang juga besar, karena kesempatan untuk mengembangkan potensi diri bisa berkembang lebih cepat dengan berkuliah. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk mengantar berkas administrasi langsung ke Jakarta, disini saya bersyukur memiliki orang-orang yang begitu mendukung setiap perjalanan hidup saya meskipun orang tua saya kurang mendukung. Awal April2012, akhirnya saya berangkat ke Jakarta dan menjadi pengalaman pertama ke Ibukota Negara Indonesia.

Pada akhir Mei, pengumuman yang lolos tahap ke-2 pun di umumkan dan saya menjadi 1 dari 149 yang lolos. Satu bulan setelah pengumuman tahap kedua, saya memberitaukan kepada mamak saya dan syukurlah beliau akhirnya mendukung dan mendoakan agar saya bisa lolos hingga tahap akhir (Percayalah, pada dasarnya orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya).

Pada awal Juni, saya  menjalani interview untuk penentuan akhir yang berhak menerima Paramadina Fellowship. Sekitar dua jam lamanya saya menjalani interview via telpon dan tinggal menunggu hasil akhirnya pada 20 Juli 2012.

 

IT IS THE DAY

20 Juli waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba, tidak seperti biasanya. Saya berangkat kerja lebih awal agar dapat segera mengakses internet untuk melihat hasil pengumuman akhirnya. Namun, pengumuman pun belum dirilis dan saya kembali berharap di Mesjid Istiqomah ada wifi, karena setelah pulang kerja saya langsung kesana. Selesai sholat Jum’at saya kembali membuka dan belum juga. Deg-degan semakin menjadi, sekitar pukul 16.00 Eva, teman yang juga lolos tahap kedua menelpon dengan nada yang sedikit putus asa (saya sudah bisa menebaknya) dan Eva mengatakan bahwa kami berdua tidak lolos. Mendengarnya, saya langsung membuka websitenya dan ya nama kami berdua tidak ada dalam 33 penerima Paramadina Fellowship.

Jantung seakan mau copot, itulah perasaan pertama kali yang saya rasakan. Tentu saja, spontan saya merasa harapan terbesar saya untuk kuliah pun akan semakin lama. Tetapi saya mencoba untuk berbesar hati bahwa THIS IS NOT THE END OF MY LIFE. Saya mencoba untuk berlapang dada dengan membuat status dan mengucapkan selamat kepada 33 teman-teman yang luar biasa penerima fellowship dan sekali lagi pengalaman berharga melalui kegagalan ini telah saya dapatkan bahwa “ketika apa yang menjadi harapan terbesar kita belum terpenuhi, yakinlah harapan terbesar itu BELUM BERAKHIR TETAPI masih memiliki jalan yang cukup panjang dan kita diminta untuk terus berjalan untuk mencapainya”.

Semakin sering mengalami kegagalan dalam sebuah seleksi, membuat saya semakin yakin bahwa      GAGAL ITU BIASA dan setiap individu PASTI pernah mengalaminya, kegagalan apa yang pernah kalian alami?

Percayalah ketika kegagalan datang menghampiri kita, disitulah kita diminta untuk menjadi individu yang lebih kompetitif dan memilki daya saing tinggi. “KEEP ON TRYING AND NEVER GIVE UP”

Dengan gagalnya saya di tahun ini, selama setahun kedepan saya akan lebih menggali potensi dan kualitas diri guna mempersiapkan pada seleksi Paramadina Fellowship 2013. Saya juga ingin membuktikkan bahwa walaupun saat ini saya belum kuliah, tetapi saya mampu sejajar dengan teman-teman, tidak dikucilkan bahkan dihina hanya karena sebuah yang namanya ‘status pendidikan’.

Saya akan terus mencoba.  Diluar sana, masih sangat banyak teman-teman yang belum beruntung seperti saya atau bahkan saya masih lebih beruntung dibanding mereka. Inilah realita ketika PENDIDIKAN MEMILIKI HARGA yang ada di Republik ini. Teman-teman yang mengalami hal serupa, tanamkan prinsip hidup pantang menyerah, lebih produktif dan terus berkarya dengan keadaan kita sekarang sembari terus mencari informasi. Untuk teman-teman yang saat ini sedang menjalani masa kuliah, gunakan waktu kuliah kalian sebaik mungkin, saya dan teman-teman yang belum beruntung sungguh ingin sekali seperti kalian,sungguh ini dari hati saya paling dalam.

Pertanyaan besar dalam diri saya “PADA TAHUN BERAPAKAH SAYA AKAN KULIAH DAN DI UNIVERSITAS MANAKAH SAYA AKAN BELAJAR?” APAKAH SAYA BISA MEWUJUDKAN CITA-CITA SAYA TANPA HARUS KULIAH?

Semoga saya dan teman-teman lainnya juga bisa menikmati masa-masa kuliah dan semoga cerita saya ini bisa menjadi bahan renungan.

-Ditulis oleh Muhammad Ami, pukul 22.30 pada 20 Juli 2012 saat orang di rumah saya tertidur lelap dan harapan saya untuk kuliah masih sangat besar-